Ekosistem pesisir memiliki peran penting dalam mendukung keseimbangan lingkungan dan mitigasi perubahan iklim. Salah satu ekosistem yang berkontribusi besar dalam menyerap dan menyimpan karbon adalah mangrove. Selain mampu menyerap karbon dioksida dalam jumlah besar, mangrove juga berfungsi sebagai pelindung alami wilayah pesisir dari abrasi, intrusi air laut, dan berbagai gangguan lingkungan lainnya.
Besarnya peran mangrove menjadikan upaya pemetaan dan estimasi cadangan Blue Carbon semakin penting untuk dilakukan. Informasi mengenai sebaran mangrove dan potensi stok karbon yang tersimpan di dalamnya dapat menjadi dasar dalam pengelolaan wilayah pesisir yang lebih berkelanjutan, sekaligus mendukung berbagai program mitigasi perubahan iklim.
Untuk mendukung peningkatan SDM di bidang tersebut, ASBIM menyelenggarakan Minicourse Pemetaan Mangrove untuk Estimasi Cadangan Blue Carbon Menggunakan Google Earth Engine pada tanggal 6–7 Juni 2026. Pelatihan ini dirancang untuk membantu peserta memahami pemanfaatan teknologi geospasial dan penginderaan jauh dalam melakukan analisis mangrove dan estimasi cadangan karbon biru secara lebih efektif dan efisien.
Mengenal Blue Carbon dan Pemanfaatan Google Earth Engine
Blue Carbon merupakan istilah yang merujuk pada karbon yang diserap, disimpan, dan dilepaskan oleh ekosistem pesisir dan laut, seperti mangrove, lamun, dan rawa pesisir. Di antara berbagai ekosistem tersebut, mangrove dikenal memiliki kemampuan menyimpan karbon yang sangat tinggi karena karbon tidak hanya tersimpan pada vegetasi, tetapi juga terakumulasi pada sedimen dalam jangka waktu yang panjang.
Namun, melakukan analisis mangrove secara langsung di lapangan bukanlah hal yang mudah. Luasnya kawasan pesisir, vegetasi yang rapat, serta pengaruh pasang surut air laut sering kali menjadi tantangan dalam proses pengumpulan data. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi penginderaan jauh dan komputasi awan menjadi solusi yang semakin banyak digunakan.
Dalam pelatihan ini, peserta diperkenalkan dengan Google Earth Engine (GEE) sebagai platform berbasis cloud computing yang memungkinkan pengolahan dan analisis data geospasial dilakukan secara online. Dengan akses ke berbagai koleksi data citra satelit dan kemampuan komputasi yang besar, Google Earth Engine memungkinkan proses analisis dilakukan tanpa memerlukan perangkat komputer dengan spesifikasi tinggi. Pendekatan ini membuat analisis Blue Carbon menjadi lebih mudah diakses oleh mahasiswa, peneliti, praktisi, maupun pemula yang ingin mendalami bidang penginderaan jauh dan analisis lingkungan.
Mempelajari Langkah Pemetaan Mangrove dan Estimasi Stok Blue Carbon
Selama dua hari pelaksanaan, peserta memperoleh pembelajaran secara bertahap mulai dari pengenalan data hingga proses analisis spasial untuk estimasi cadangan karbon biru.
Pada hari pertama, peserta mempelajari proses pemanggilan dan pengolahan citra satelit Sentinel-2 menggunakan Google Earth Engine. Materi kemudian dilanjutkan dengan proses klasifikasi untuk mengidentifikasi sebaran mangrove pada wilayah studi. Melalui sesi ini, peserta memahami bagaimana data penginderaan jauh dapat dimanfaatkan untuk memetakan tutupan lahan dan mengidentifikasi ekosistem mangrove secara lebih cepat dan efisien.
Hari kedua difokuskan pada analisis yang lebih mendalam. Peserta mempelajari perhitungan Mangrove Health Index (MHI) untuk mengevaluasi kondisi kesehatan ekosistem mangrove, melakukan estimasi cadangan karbon, serta menjalankan analisis time series untuk melihat dinamika perubahan kondisi mangrove dari waktu ke waktu.
Melalui rangkaian materi tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai keseluruhan workflow analisis Blue Carbon, mulai dari pengolahan citra satelit, identifikasi dan evaluasi kesehatan mangrove, hingga proses estimasi stok karbon yang tersimpan di dalam ekosistem pesisir. Pembelajaran yang mengombinasikan teori dan praktik secara langsung membantu peserta memahami penerapan teknologi geospasial dalam mendukung penelitian dan pengambilan keputusan berbasis data.
Mendukung Pengelolaan Wilayah Pesisir yang Berkelanjutan
Setelah mengikuti pelatihan, peserta kini mampu mengolah citra satelit menggunakan Google Earth Engine, melakukan analisis spasial untuk estimasi stok karbon biru, serta menghasilkan peta distribusi dan estimasi cadangan Blue Carbon yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan penelitian maupun perencanaan pengelolaan pesisir.
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen ASBIM dalam mendukung peningkatan kompetensi sumber daya manusia di bidang geospasial, khususnya dalam pemanfaatan teknologi penginderaan jauh dan analisis berbasis cloud computing untuk menjawab berbagai tantangan lingkungan dan perubahan iklim.
ASBIM mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah berpartisipasi dan mempercayakan pengembangan kompetensinya melalui minicourse ini. Antusiasme peserta menjadi motivasi bagi ASBIM untuk terus menghadirkan pelatihan yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.
Tertarik mempelajari pemetaan mangrove dan analisis Blue Carbon ?
Hubungi ASBIM dan tingkatkan kompetensi geospasial Anda bersama para praktisi berpengalaman!
Admin ASBIM +62878-3988-0416