Deforestasi adalah perubahan tutupan lahan dari kawasan berhutan menjadi non-hutan akibat aktivitas manusia seperti pembukaan lahan, perkebunan, pertambangan, pembangunan infrastruktur, maupun kebakaran hutan. Dampaknya tidak hanya pada hilangnya biodiversitas, tetapi juga terhadap perubahan iklim, degradasi tanah, dan gangguan keseimbangan ekosistem.
Untuk memantau deforestasi secara efektif, dibutuhkan data spasial yang temporal dan akurat. Di sinilah Google Earth Engine (GEE) berperan sebagai platform analisis geospasial yang mampu mengolah data satelit dalam skala besar.
Google Earth Engine (GEE) adalah platform komputasi geospasial berbasis cloud yang dikembangkan oleh Google untuk menganalisis data satelit dan dataset lingkungan dalam skala besar. Platform ini menyediakan akses ke berbagai arsip citra satelit seperti Landsat, Sentinel, MODIS, serta data tutupan lahan, iklim, dan elevasi. Dalam konteks kehutanan, Google Earth Engine menjadi solusi efektif untuk monitoring perubahan tutupan hutan, termasuk analisis deforestasi secara periodik.
Mengapa GEE Efektif untuk Analisis Deforestasi?
Pertama, kemampuan analisis multi-temporal. Pengguna dapat membandingkan citra antar tahun untuk melihat perubahan tutupan hutan secara periodik. Hal ini penting untuk mengetahui tren kehilangan hutan dari waktu ke waktu.
Kedua, kemudahan perhitungan indeks vegetasi. Salah satu indeks yang paling umum digunakan adalah NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) untuk mengukur tingkat kehijauan vegetasi. Nilai NDVI tinggi menunjukkan vegetasi sehat, sedangkan nilai rendah mengindikasikan area terbuka atau terdegradasi. Penurunan nilai NDVI dalam periode tertentu dapat menjadi indikator deforestasi.
Rumus NDVI yaitu NDVI = (NIR - Red) / (NIR + Red)
Ketiga, kemampuan change detection otomatis. GEE memungkinkan klasifikasi hutan dan non-hutan berdasarkan threshold tertentu, lalu membandingkannya untuk menghitung luas perubahan. Selain itu, seluruh proses berjalan di cloud sehingga analisis skala kabupaten hingga nasional dapat dilakukan lebih efisien dan tidak membutuhkan penyimpanan yang besar.
Tahapan Analisis Deforestasi
Berikut tahapan umum analisis deforestasi menggunakan Google Earth Engine:
- Menentukan Area of Interest (AOI). Menetapkan batas wilayah studi, seperti kawasan hutan atau batas administrasi.
- Memilih Dataset Citra. Menggunakan Landsat untuk analisis jangka panjang atau Sentinel-2 untuk resolusi spasial lebih tinggi.
- Cloud Masking dan Filtering. Menghapus piksel awan agar hasil analisis lebih akurat.
- Perhitungan Indeks Vegetasi. Menghitung NDVI untuk mengidentifikasi kondisi vegetasi.
- Klasifikasi dan Change Detection. Menentukan threshold hutan dan non-hutan, lalu membandingkan antar tahun.
Ingin Belajar Analisis Deforestasi dengan GEE?
Bagi mahasiswa, profesional, maupun praktisi industri yang ingin mempelajari Google Earth Engine lebih dalam, Anda dapat bergabung bersama Academy of Spatial and BIM (ASBIM).
ASBIM menyediakan kelas khusus Google Earth Engine untuk analisis deforestasi yang dirancang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan industri perkebunan, kehutanan, tambang, hingga infrastruktur. Materi dirancang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan industri maupun akademik, sehingga sangat cocok bagi mahasiswa, peneliti, maupun profesional geospasial yang ingin meningkatkan kompetensinya.
Dengan pembelajaran terstruktur dan berbasis praktik, Anda tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengimplementasikan analisis deforestasi secara mandiri menggunakan GEE.