Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali jadi sorotan di Indonesia sepanjang 2026, khususnya diakhir tahun 2026 ini. Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, luas karhutla nasional periode Januari sampai Juli 2026 mencapai 202.010,96 hektare. Bukan cuma menghanguskan hutan, kebakaran ini juga merenggut banyak nyawa satwa liar. Di Ketapang, Kalimantan Barat contohnya, dimana tim Manggala Agni menemukan bangkai trenggiling di lokasi kebakaran. Bahkan, ada seekor orangutan bernama Sempurna yang sempat dievakuasi dalam keadaan berkondisi lemas, yang dimana sayangnya harus merenggut nyawanya setelah menjalani perawatan intensif beberapa hari kemudian.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) mencatat sudah mengevakuasi puluhan satwa liar sejak Agustus 2026, kebanyakan orangutan yang terpaksa masuk ke kebun sawit warga karena habitatnya sudah hangus. BKSDA sendiri mengakui, angka evakuasi itu belum termasuk satwa yang mati atau tidak ditemukan di lokasi kebakaran, artinya dampak sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar dari yang tercatat.
Sebaran Titik Panas di Indonesia
Titik panas atau hotspot yang terus terpantau di berbagai wilayah, berdasarkan Sistem Pemantauan Karhutla Kemenhut (SiPongi) yang mengolah data citra Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, tercatat 1.532 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional per 20 September 2026. Yang dimana kalimantan Tengah memimpin dengan 968 titik panas, jauh di atas provinsi lain. Sumatera Selatan menyusul di angka 285, lalu Kalimantan Barat 98, Kalimantan Selatan 39, Jambi 26, dan Riau satu titik. Soal luas area yang terbakar, posisinya justru berbeda. Namun, Kalimantan Barat masih tercatat sebagai provinsi dengan area terbakar terluas pada periode Januari sampai Juni 2026, yaitu 28.680,47 hektare.
Apakah Alam yang Menyebabkan Hal Ini?
Fenomena El Nino menurunkan curah hujan, yang dimana dengan kondisi ini, membuat lahan gambut dan vegetasi lebih kering dari biasanya, lebih mudah tersulut api. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebut El Nino tahun ini datang lebih cepat dari perkiraan dan intensitasnya kuat. Tapi kering saja belum tentu jadi api. Sebagian besar kasus karhutla justru berawal dari aktivitas manusia, terutama pembukaan lahan dengan cara dibakar. Praktik ini banyak dianggap lebih murah dan cepat dibanding metode lain oleh kebanyakan orang. Begitu api ini bertemu gambut atau rerumputan yang kering, penyebarannya jadi sulit dikendalikan, apalagi bara api yang bisa terus hidup di bawah permukaan tanpa kelihatan dari atas.
Sebuah studi di Jurnal Ilmu Kehutanan UGM mengenai rezim kebakaran di kawasan restorasi gambut Kalimantan Tengah menemukan pola yang serupa, dimana mereka menemukan melalui analisis spasial dan temporal selama satu dekade, perubahan tutupan lahan akibat aktivitas manusia tetap menjadi variabel paling menentukan, yang dimana mereka menemukan faktor cuaca bukan salah satu faktor utama. Menurut Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan, fenomena El Nino tahun ini diperkirakan masih akan bertahan hingga awal 2027. Artinya, ancaman karhutla di lahan gambut kemungkinan belum mencapai puncaknya, dan musim kemarau berikutnya berisiko membawa kondisi yang sama atau bahkan lebih parah.
Peran Citra Satelit dalam Pemantauan
Wilayah Indonesia terlalu luas untuk dipantau secara manual, oleh karena itu karena majunya teknologi terkini, Citra satelit hadir menjadi salah satu cara paling efektif untuk memantau karhutla. Contohnya melalui data Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 yang digunakan SiPongi, kondisi permukaan bumi bisa dicek secara berkala, sebaran titik panas bisa dideteksi lebih awal, sehingga area terdampak kebakaran bisa teridentifikasi sebelum meluas ke lokasi yang sulit dijangkau oleh tim darat.
Yuk Pelajari Pemetaan Rawan Bencana Bersama ASBIM!
Kemampuan membaca citra satelit dan data geospasial seperti ini pastinya akan terus dibutuhkan, bukan cuma pemerintah, tapi juga pasti konsultan lingkungan, lembaga riset, serta instansi pemerintah daerah lainnya, sampai organisasi konservasi yang butuh tenaga yang paham dan mengerti cara mengolah data satelit untuk mendeteksi titik panas serta analisis kerawanan bencana.
Cuma di Academy of Spatial and BIM (ASBIM), kami menyediakan program pelatihan pemetaan rawan bencana, mulai dari pengolahan data geospasial, analisis parameter kerawanan, teknik overlay menggunakan GIS, hingga penyusunan peta rawan bencana lewat studi kasus yang relevan dengan kebutuhan industri. Tertarik mempelajari pemetaan dan analisis kerawanan bencana menggunakan GIS? Tingkatkan kemampuan kamu bersama para praktisi berpengalaman di Academy of Spatial and BIM (ASBIM).
Hubungi Admin ASBIM: +62 878-3988-0416